Saturday, 30 May 2026

15 Juta Rumah Tangga Indonesia Bakal Pakai Smart Home di 2026, Ini Faktanya

Ilustrasi smart home teknologi IoT untuk hunian modern di Indonesia

Jakarta — Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat Indonesia memilih hunian. Lokasi dan desain tetap jadi pertimbangan utama, namun kini aspek keamanan, efisiensi, dan kemudahan akses teknologi turut menentukan keputusan pembeli rumah.

15,2 Juta Rumah Tangga Indonesia Diproyeksi Pakai Smart Home

Tren smart living di sektor properti makin nyata, terutama pada proyek hunian yang menyasar generasi muda dan keluarga baru. Data Smart Home+City Indonesia memperkirakan sebanyak 15,2 juta rumah tangga di Tanah Air akan mengadopsi teknologi smart home pada 2026.

Angka ini naik signifikan dari catatan We Are Social yang mencatat 9,58 juta rumah tangga pengguna smart home pada 2024, lalu meningkat menjadi 11 juta pada 2025. Peningkatan pesat ini dipicu semakin luasnya akses internet, meluasnya penggunaan perangkat berbasis Internet of Things (IoT), serta perubahan pola aktivitas masyarakat yang mengandalkan perangkat digital sehari-hari.

Keamanan Jadi Alasan Utama Beralih ke Smart Lock

Teknologi smart home memungkinkan penghuni mengontrol sejumlah perangkat melalui aplikasi di smartphone secara real-time. Selain kenyamanan, aspek keamanan menjadi perhatian utama masyarakat, khususnya bagi penghuni rumah dan apartemen dengan mobilitas tinggi.

Kebutuhan pemantauan rumah dari jarak jauh hingga pengelolaan akses masuk menjadi fitur yang kian populer dalam sistem rumah pintar. Melihat perkembangan ini, Evomab, penyedia teknologi smart home yang merupakan bagian dari PT Aditya Sarana Graha (ASG), menghadirkan produk smart lock dan CCTV berbasis IoT untuk pasar Indonesia.

“Rumah pintar di Indonesia bukan lagi sekadar tren gaya hidup, tetapi sudah menjadi kebutuhan masyarakat modern yang mengutamakan keamanan dan efisiensi. Masyarakat juga mulai beralih ke gaya hidup ‘keyless’, meninggalkan sistem kunci mekanik konvensional dan beralih ke sistem digital,” kata Ryan Limanto, Product Manager Home Locks and Security Solutions Division Evomab.

Tantangan Adopsi: Harga dan Kebiasaan Konvensional

Ryan mengakui adopsi smart home di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Kekhawatiran terhadap keamanan sistem digital, potensi gangguan sistem, hingga harga perangkat yang dianggap relatif tinggi menjadi hambatan utama. Sebagian masyarakat juga masih terbiasa dengan sistem kunci konvensional.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Evomab menghadirkan fitur yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di Indonesia. Sistem multi-akses seperti sidik jari, PIN, kartu akses, serta kontrol melalui aplikasi smartphone menjadi andalan. Fitur pemantauan jarak jauh, deteksi gerakan otomatis, serta notifikasi real-time saat pintu belum terkunci atau terdapat aktivitas mencurigakan turut disematkan.

“Kami juga mengembangkan CCTV pintar, seperti solar CCTV dan sistem nirkabel untuk mendukung area dengan keterbatasan instalasi listrik,” papar Ryan.

Pengembang Properti Mulai Sisipkan Konsep Smart Living

Perkembangan industri properti turut memengaruhi peningkatan penggunaan teknologi smart home. Sejumlah pengembang mulai memasukkan konsep smart living sebagai salah satu fitur tambahan pada proyek residensial mereka, terutama untuk menyasar konsumen yang akrab dengan teknologi digital.

Minat terhadap rumah modern dengan fitur canggih makin meningkat. Meningkatnya penggunaan perangkat rumah pintar dan sistem keamanan berbasis digital seperti smart lock dan CCTV dinilai akan semakin banyak diterapkan pada hunian modern di Indonesia, termasuk proyek-proyek premium.

“Ke depan, smart home bukan hanya menjadi simbol gaya hidup modern, tetapi juga akan menjadi standar baru dalam menciptakan hunian yang aman, produktif, dan terhubung,” kata Ryan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *